(Petikan dari Buku Cenderamata Lembaga Adat Mandailing
Malaysia). Orang Mandailing diriwayatkan berasal dari Munda yaitu sebuah daerah
di India Tengah. Mereka telah berpindah-pindah pada abad-ke 6, karena terpukul
dengan serangan bangsa Arayan dari Irak yang meluaskan pengaruh mereka. Setelah
melintasi Gunung Himalaya mereka menetap sebentar di Mandalay, yaitu ibu negara
Burma purba. Besar kemungkinan nama Mandalay itu sendiri datangnya dari
perkataan Mandailing yang mengikuti logat Burma.
Sekali lagi mereka terpaksa bepindah karena pergolakan suku
kaum di Burma yang sering berperang. Pada waktu itu mereka melintasi Selat
Malaka , yang pada masa itu bukan merupakan suatu lautan yang besar, sangat
dimaklumi bahwa pada masa itu dibagian tertentu Semenanjung Tanah Melayu dan
Sumatera hanya di pisahkan oleh selat kecil saja.
Kaum Munda telah berjaya menyeberangi laut kecil tersebut dan
mendirikan sebuah kerajaan di Batang Pane, Portibi, diduga peristiwa ini
terjadi di akhir abad ke – 6. Kerajaan Munda Holing di Portibi ini telah
menjadi mashur dan meluaskan wilayah taklukannya hingga kesebahagian besar
pantai Sumatera dan Tanah Melayu. Keadaan ini menimbulkan kemarahan kepada
Maharaja Rajenderacola lalu beliau menyerang kerajaan Munda Holing dan negara
pantai lainnyadi abad ke-9. Tenteara kerajaan Munda Holing yang di pimpin oleh
Raja Odap-Odap telah ditewaskan oleh Rajenderacola dan berkuasa di seluruh
daerah Batang Pane. Tunangannya Borudeakparujar telah melintasi Dolok Maela
(sempena Himalaya yang didaki oleh nenek moyangnya) dengan menggenggam segumpal
tanah di Portibi untuk menempah satu kerajaan baru (Menempah banua).
Kerajaan kedua di Sumatera di didirikan di Pidoli Dolok di
kenali sebagai kerajaan Mandala Holing artinya kawasan orang-orang Keling. Pada
masa itu mereka masih beragama Hindu memuja Dewa Siva. Di abad ke 13, Kerajaan
Majapahit telah menyerang ke Lamuri, Padang Pariaman dan Mandailing. Sekali
lagi kerajaan Mandala Holing ini telah di bumi hangus dan hancur. Penduduk yang
tidak dapat di tawan telah lari kehutan dan bercampur-gaul dengan penduduk
asli. Lalu terbentuklah Marga Pulungan artinya yang di kutip-kutip. Di abad
ke-14 dan ke 15, Marga Pulungan telah mendirikan tiga buah Bagas Godang di atas
tiga puncak Bukit namun kerajaan tersebut bukan lagi sebuah kerajaan yang
besar, hanya merupakan kerajaan kampung.
Di pertengah abad ke-14, terdapat legenda tiga anak Yang
Dipertuan Pagar Ruyung yang bernama Betara Sinomba, Putri Langgoni dan yang
bungsunya Betara Gorga Pinanyungan yang mendirikan dua buah kerajaan
baru.Betara Sinomba telah di usir oleh Yang Dipertuan dari Pagar Ruyung karena
kesalahan bermula dengan adiknya Putri Langgoni. Kedua beradik tersebut
berserta pengikutnya telah merantau dan mendirikan kerajaan di Kota Pinang.
Yang di Pertuan Kota Pinang inilah yang menurunkan raja-raja ke Kota Raja,
Bilah, Kampung Raja dan Jambi.
Adiknya Betara Gorga Pinanyungan di dapati bersalah belaku
adil dengan sepupu sebelah ibunya yaitu Putri Rumandang Bulan. Oleh kerana
tidak ada lagi pewaris takhta makanya putri tersebut ditunangkan dengan Raja
Gayo.