Pages

Tampilkan postingan dengan label Kebudayaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kebudayaan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 April 2013

Penyebab kenapa Malaysia mengklaim gordang sembilan milik mereka

Publik di Indonesia kembali diributkan dengan upaya Malaysia mempatenkan Gordang Sambilan dan tari Tor-tor khas Batak Mandailing. Upaya Malaysia ini tidak ahistoris, karena mereka memiliki komunitas Mandailing yang kuat di negeri itu.
Menurut Abdur-Razzaq Lubis, seorang pakar Mandailing di Malaysia, orang-orang Mandailing di Semenanjung Melayu datang dari daerah Sumatera Utara yang berbatasan dengan Sumatera Barat.

Mereka eksodus di masa Perang Paderi di abad 19 dulu. Sebagai pengikut Paderi, mereka direpresi kolonial Belanda sehingga terpaksa bermigrasi ke luar dari kampungnya menuju Malaysia.
Dalam makalah berjudul "Mandailing-Batak-Malay: A People Defined and Divided" yang dipresentasikan dalam Konvensi Internasional Cendekiawan Asia di Kuala Lumpur, Agustus 2007, Lubis menyatakan warga keturunan Mandailing ini merantau ke Malaysia dan Singapura.
Istilah Mandailing sendiri ditemukan dalam Nagarakertagama, sebuah epik yang ditulis di zaman Majapahit sekitar tahun 1365. Mandailing disebutkan sebagai salah satu daerah di bawah kekuasaan Majapahit.

Mandailing Bukan dari Batak

Kali ini saya berkesempatan memposting fakta tentang MANDAILING ,yaitu kabupaten kelahiran saya. artikel ini saya posting atas dasar pendapat yang salah yang tentang sebagian orang mengenai asal usul Mandailing, Semoga Artikel ini menambah wawasan anda tentang asal usul Mandailing,mohon kritik dan saran nya. Mengetahui asal usul mandailing, maka kita harus ke masa lalu. Asal usul mandailing dan sejarah mandailing natal harus ditulis berdasarkan data empiris. Asal usul mandailing tidak hanya dicatat berdasar penuturan cerita rakyat. Baiklah, cerita rakyat dibutuhkan sebagai pelengkap data empiris tadi, tetapi bingkai penulisan sejarah asal usul mandailing tetap harus dengan bingkai yang realistis, logis dan sistematis. Sejarah mandailing harus dibebaskan dari sentuhan subjektif, seperti fanatisme keyakinan,dan fatalisme silsilah Raja Batak. Jika kita sudah menyimpulkan suatu hal, “asal usul mandailing dari batak toba”. Maka kita telah berhenti untuk berfikir dan menggali pertanyaan: dari mana asal usul mandailing? Dengan vonis, “asal usul mandailing adalah dari batak toba” kita telah membunuh sejarah asal usul mandailing. Siapa yang tahu pasti asal usul mandailing dari batak toba kecuali nenek moyang mandailing itu sendiri. Dan sayangnya mereka yang telah pergi tidak menitipkan surat wasiat dan catatan yang bisa dimengerti dan jelas mereka berasal dari mana. Jadi seseorang yang hidup di zaman ini tidak punya hak memvonis asal usul mandailing dari batak toba atau tidak. Istilah mandailingnya: “Dont punish if you dont know”.

Sejarah Mandailing

(Petikan dari Buku Cenderamata Lembaga Adat Mandailing Malaysia). Orang Mandailing diriwayatkan berasal dari Munda yaitu sebuah daerah di India Tengah. Mereka telah berpindah-pindah pada abad-ke 6, karena terpukul dengan serangan bangsa Arayan dari Irak yang meluaskan pengaruh mereka. Setelah melintasi Gunung Himalaya mereka menetap sebentar di Mandalay, yaitu ibu negara Burma purba. Besar kemungkinan nama Mandalay itu sendiri datangnya dari perkataan Mandailing yang mengikuti logat Burma.
Sekali lagi mereka terpaksa bepindah karena pergolakan suku kaum di Burma yang sering berperang. Pada waktu itu mereka melintasi Selat Malaka , yang pada masa itu bukan merupakan suatu lautan yang besar, sangat dimaklumi bahwa pada masa itu dibagian tertentu Semenanjung Tanah Melayu dan Sumatera hanya di pisahkan oleh selat kecil saja.
Kaum Munda telah berjaya menyeberangi laut kecil tersebut dan mendirikan sebuah kerajaan di Batang Pane, Portibi, diduga peristiwa ini terjadi di akhir abad ke – 6. Kerajaan Munda Holing di Portibi ini telah menjadi mashur dan meluaskan wilayah taklukannya hingga kesebahagian besar pantai Sumatera dan Tanah Melayu. Keadaan ini menimbulkan kemarahan kepada Maharaja Rajenderacola lalu beliau menyerang kerajaan Munda Holing dan negara pantai lainnyadi abad ke-9. Tenteara kerajaan Munda Holing yang di pimpin oleh Raja Odap-Odap telah ditewaskan oleh Rajenderacola dan berkuasa di seluruh daerah Batang Pane. Tunangannya Borudeakparujar telah melintasi Dolok Maela (sempena Himalaya yang didaki oleh nenek moyangnya) dengan menggenggam segumpal tanah di Portibi untuk menempah satu kerajaan baru (Menempah banua).
Kerajaan kedua di Sumatera di didirikan di Pidoli Dolok di kenali sebagai kerajaan Mandala Holing artinya kawasan orang-orang Keling. Pada masa itu mereka masih beragama Hindu memuja Dewa Siva. Di abad ke 13, Kerajaan Majapahit telah menyerang ke Lamuri, Padang Pariaman dan Mandailing. Sekali lagi kerajaan Mandala Holing ini telah di bumi hangus dan hancur. Penduduk yang tidak dapat di tawan telah lari kehutan dan bercampur-gaul dengan penduduk asli. Lalu terbentuklah Marga Pulungan artinya yang di kutip-kutip. Di abad ke-14 dan ke 15, Marga Pulungan telah mendirikan tiga buah Bagas Godang di atas tiga puncak Bukit namun kerajaan tersebut bukan lagi sebuah kerajaan yang besar, hanya merupakan kerajaan kampung.
Di pertengah abad ke-14, terdapat legenda tiga anak Yang Dipertuan Pagar Ruyung yang bernama Betara Sinomba, Putri Langgoni dan yang bungsunya Betara Gorga Pinanyungan yang mendirikan dua buah kerajaan baru.Betara Sinomba telah di usir oleh Yang Dipertuan dari Pagar Ruyung karena kesalahan bermula dengan adiknya Putri Langgoni. Kedua beradik tersebut berserta pengikutnya telah merantau dan mendirikan kerajaan di Kota Pinang. Yang di Pertuan Kota Pinang inilah yang menurunkan raja-raja ke Kota Raja, Bilah, Kampung Raja dan Jambi.
Adiknya Betara Gorga Pinanyungan di dapati bersalah belaku adil dengan sepupu sebelah ibunya yaitu Putri Rumandang Bulan. Oleh kerana tidak ada lagi pewaris takhta makanya putri tersebut ditunangkan dengan Raja Gayo.